Peringatan dari Syirik (Bag. 2) PDF Cetak E-mail
Kategori : Buletin | Dilihat : 425 kali
Sunday, 11 Muharram 1431
Minggu, 27 Desember 2009 21:40

Adapun syirik kecil ialah syirik yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, akan tetapi akan mengurangi tauhidnya, dan syirik kecil ini merupakan sebagai perantara untuk sampai kepada syirik besar.

Syirik kecil ini  terbagi kepada dua : syirik yang nyata dan syirik yang tersembunyi.

Adapun syirik yang nyata, ini lebih terkhusus dengan amalan-amalan dan perkataan-perkataan yang zhohir.

Sedangkan bentuk ucapan-ucapan yang zhohir seperti: bersumpah dengan selain nama Allah, atau ucapan “apa-apa yang telah Allah kehendaki dan kamu kehendaki”, dan juga ucapan “kalaulah bukan karena Allah dan si fulan”, maka tidak dibenarkan bagi seseorang untuk menyamakan selain Allah dengan Allah. Bahkan yang dibolehkan dia mengatakan : “apa-apa yang telah Allah kehendaki, kemudian si fulan”, dan ucapan “kalaulah bukan karena Allah kemudian si fulan, begini”.

Sedangkan dari bentuk perbuatan , banyak sekali, seperti menggantungkan jimat-jimat sebagai tangkal dari penyakit `aiin, atau memakai gelang atau benang untuk menghilangkan dan menolak bala, dan ini dibarengi dengan i`tiqad bahwa benda-benda ini sebagai penyebab menjauhkan dan menolak bala. Kalau seandainya dia berkeyakinan bahwa tangkal-tangkal tersebut sebagai penolak dan menghilangkan bala, maka ini merupakan syirik besar.

Bagian kedua, syirik yang tersembunyi. Allah Ta`ala berfirman :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Ilah kalian itu adalah Ilah yang Satu". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya". (QS. Al Kahfi : 110)

Berkata Ibnul Qaiyim- rahimahullahu Ta`ala- : “Dan syirik ini merupakan lautan yang tidak batas baginya dan sedikit sekali orang selamat darinya. Maka barang siapa yang menginginkan dengan amalannya selain mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala sungguh-sungguh dia telah berbuat syirik dalam keinginan dan niatnya”.

Sementara keikhlasan ialah hendaknya seseorang tersebut mengikhlaskan semata-mata karena Allah, baik ucapannya, perbuatannya, niatnya dan keinginannya. Sesungguhnya millah hanifiyah ini, millah (Din) Ibrahim `alaihis sholaatu was salaam yang Allah telah memerintahkan dengannya hamba-hamba-Nya seluruhnya, dan Dia tidak akan menerima dari siapapun selain dari millah Ibrahim `alaihis sholaatu was salaam, dan ini haqiqat Islam itu sendiri.[7]

Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari Din (agama) selain Din Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran : 85)

Sesungguhnya Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berlindung dengan Allah Ta`ala dari kesyirikan ini. Dari `Abdullah bin Huzn radhiallahu `anhu berkata : Pada suatu hari Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah, maka beliau bersabda : “Wahai manusia, takutlah kalian kepada syirik ini. Sesungguhnya dia lebih tersembunyi dari jalannya semut”, lalu berkata kepada beliau seorang yang dikehendaki Allah berkata : “Bagaimana kami akan menjauhinya sementara dia lebih halus dari jalannya semut ya Rasulullah!”, beliau bersabda : “Kalian ucapkanlah! Ya Allah! Sesungguhnya kami berlindung dengan Engkau dari mempersekutukan Engkau dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami minta ampun kepada Engkau bagi apa apa yang kami tidak mengetahuinya”.[8]

Dari Abi Sa`iid al Khudriy radhiallahu `anhu bahwa Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم من المسيح الدجال؟ الشرك الخفي أن يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته لما من نظر رجل

“Ketahuilah, maukah kalian saya kabarkan dengan apa-apa yang lebih saya takutkan atas kalian dari al Masih ad Dajjal? Yaitu syirik yang tersembunyi, bahwa seseorang berdiri melakukan shalat lantas dia hiasi shalatnya tatkala dia melihat ada orang yang melihatnya”.[9]

Dari Mahmuud bin Lubeid radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya sesuatu yang paling saya takutkan atas kalian ialah syirik kecil” Para shahabat bertanya : “Apa yang dimaksud dengan syirik kecil itu?” Jawab Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam : “ar riya`”. Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat ketika membalas amalan-amalan manusia : “Pergilah kalian kepada orang-orang yang di dunia dahulu kalian memamerkan amalan-amalan kalian kepada mereka, maka kalian lihatlah, apakah kalian mendapatkan di sisi mereka ganjaran?”[10]

Kadang-kadang sebagian manusia menganggap remeh terhadap syirik ini dikarenakan penamaannya syirik yang kecil, padahal hal ini dinamakan dia dengan syirik kecil kalau dibandingkan dengan syirik besar dan kalau tidak, sesungguhnya dia merupakan dosa yang paling terbesar dari seluruh dosa-dosa besar yang ada. Oleh karena itu berkata ahli `ilmu :

  1. Sesungguhnya syirik yang besar apabila masuk ke dalam satu amalan dia akan merusak amalan tersebut dan menghapuskannya.
  2. Sesungguhnya syirik yang kecil tidak diampuni pelakunya, bukan pelakunya berada di bawah kehendak Allah Ta`ala seperti pelaku dosa besar, bahkan dia diadzab seukuran dosanya, Allah Ta`ala berfirman :

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa` : 116)

Maka diwajibkan atas setiap orang mukmin agar berhati-hati dari kesyirikan dengan segala bentuknya dan khawatir atas dirinya akan hal tersebut. Sungguh telah takut Nabi Ibrahim `Alaihis Sholaatu was Salaam atas dirinya terhadap kesyirikan tersebut, yang padahal dia merupakan imam ahlit tauhid. Kemudian dia berkata kepada Rabbnya :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ آمِناً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari mengibadati berhala-berhala”. (QS. Ibrahim : 35)

Berkata Ibrahim at Taimiy : “Siapa yang terjamin dari bala` setelah Nabi Ibrahim `Alaihis Sholaatu was Salaam?”

Berkata as Syaikh `Abdurrahman bin Hasan rahimahullahu Ta`ala : “Maka tidak ada yang merasa aman dari terjerumus kepada kesyirikan kecuali orang yang bodoh dengannya, dan dengan apa-apa yang akan melepaskannya darinya, dari bentuk berilmu dengan Allah, dan dengan apa yang dibawa Rasul-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam dari bentuk beribadah kepada-Nya dan larangan dari mempersekutukan-Nya Tabaaraka wa Ta`ala”.[11]

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

 

Diterjemahkan oleh al Faqiir Ila `Afwi Rabbihi, Al Ustadz Abul Mundzir Dzul Akmal bin Muhammad Kamal As Salafiy dari kitab : “Ad Durarul Muntaqoot minal Kalimaatil Mulqoot Duruusun Yaumiyyah” halaman 115-119 , karya Ad Doktor Amiin bin `Abdillah As Syaqaawiy


[7] Ad daa wad Dawaa` , oleh Ibnu Qaiyim al Jauziyah, hal. 184.

[8] Musnad al Imam Ahmad (3/403) dengan sanad yang hasan.

[9] Musnad al Imam Ahmad (3/30).

[10] Musnad al Imam Ahmad (5/428).

[11] Fathul Majiid, halaman 74.